Psikiatri dan psikologi adalah bidang ilmu yang relatif muda serta berkembang dari kedokteran dan filsafat. Namun, hal itu bukan alasan utama mengapa keduanya masih dikelilingi banyak mitos. Sejarah buruk layanan kesehatan mental, penyalahgunaan psikiatri untuk kepentingan politik, dan pandangan masyarakat telah membuat sebutan “orang gila” menjadi hinaan, sedangkan diagnosis gangguan mental dianggap sebagai stigma seumur hidup.
Disabilitas akibat gangguan mental termasuk masalah yang cukup umum di Indonesia. Data resmi mencatat jutaan kasus gangguan kesehatan mental, dan angka tersebut hanya mencakup kasus yang terdata. Salah satu penyebab utama ketakutan terhadap psikiatri adalah kurangnya pengetahuan. Keterbatasan informasi membuat banyak orang merasa takut. Sudah waktunya kita meluruskan anggapan tersebut.
Mitos 1. Gangguan Mental Menandakan Kelemahan
Hal yang paling tidak boleh dilakukan kepada seseorang dengan gejala gangguan mental adalah membuatnya merasa malu melalui ucapan seperti “Lihat, masalah orang itu jauh lebih berat, sedangkan Anda sedih hanya karena hal sepele”, “Orang yang waras tidak pergi ke psikolog. Apakah Anda gila?”, atau “Kuatkan diri, jangan lemah”.
Gangguan mental sama sekali tidak berkaitan dengan kuat atau lemahnya karakter seseorang. Sebaliknya, keputusan untuk mencari bantuan tenaga profesional menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Gangguan mental juga merupakan masalah kesehatan seperti penyakit fisik karena memiliki penyebab dan mekanismenya sendiri.
Misalnya, kecemasan atau depresi dapat muncul akibat trauma masa kecil. Kondisi seperti ini tidak dapat disembuhkan hanya dengan kemauan keras, pandangan positif terhadap kehidupan, atau percakapan dari hati ke hati dengan teman.
Mitos 2. Gangguan Mental Hanya Dialami Orang Dewasa
Menurut statistik National Institute of Mental Health di Amerika Serikat, 20% anak pernah mengalami gangguan mental setidaknya satu kali. Gejala kecemasan, depresi, gangguan obsesif kompulsif, dan gangguan lainnya dapat dialami oleh anak maupun orang dewasa.
Mitos 3. Psikoterapi Hanya Bisnis dan Praktik Palsu
Budaya populer sering menampilkan pasien yang berbaring di ruang praktik dokter sambil menjawab berbagai pertanyaan. Dalam film, setelah percakapan seperti itu, psikoterapis biasanya menyarankan klien untuk “mencari suasana baru” atau meresepkan obat. Efek obat tersebut kemudian menjadi bagian dari konflik cerita yang tentu saja merugikan tokohnya.
Kenyataannya, proses perawatan sangat berbeda. Tenaga profesional membantu pasien memahami gangguannya, mengajarkan cara mengenali tanda kekambuhan dan mencegahnya, serta dapat memadukan terapi percakapan dengan pengobatan.

Mitos 4. Orang dengan Gangguan Mental Tidak Dapat Pulih
Memang, mengatasi gangguan mental tidak selalu mudah karena proses pemulihan sangat bergantung pada keterlibatan pasien. Misalnya, depresi membuat seseorang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan dan tingkat keparahannya dinilai dengan skor 10. Setelah beberapa waktu mengikuti terapi obat dan berkonsultasi dengan tenaga profesional, kondisinya membaik sebagian dan skor depresinya turun menjadi 6.
Kondisi pasien terus membaik karena ia mengikuti rencana perawatan, lalu skor depresinya turun menjadi 4. Jika ia tetap menjaga kesehatan setelah mengalami perbaikan, gejalanya dapat ditekan hingga tingkat minimum. Kekambuhan atau memburuknya kondisi juga dapat dicegah. Hal ini dapat menunjukkan pemulihan sebagian atau hampir sepenuhnya.
Mitos 5. Orang dengan Gangguan Mental Tidak Bisa Bekerja
Gangguan mental sangat beragam, baik dari mekanisme maupun tingkat dampaknya terhadap pasien. Suatu gangguan mungkin memengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang, tetapi belum tentu menghalanginya untuk bekerja. Sebenarnya, mitos ini sering lebih menghambat pekerjaan daripada gangguan itu sendiri. Orang dengan gangguan mental kesulitan mencari pekerjaan dan lamaran mereka ditolak karena dianggap tidak layak berada dalam tim. Namun, ketika seorang karyawan mengalami patah kaki, ia tidak langsung diberhentikan. Anggapan tersebut tidak masuk akal, bukan? Terlebih lagi, seperti dijelaskan pada poin 4, orang dengan gangguan mental tidak boleh serta-merta dianggap tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya.
Selain itu, hukum di Indonesia tidak membenarkan pelabelan seumur hidup hanya karena seseorang pernah mendapatkan layanan kesehatan mental. Banyak gangguan mental juga tidak mengharuskan seseorang berkonsultasi dengan psikoterapis secara rutin.
Perhatikan Hal Berikut!
Terakhir, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami:
- Psikiater perlu menilai apakah pasien mampu bekerja. Diagnosis tidak perlu dicantumkan secara terperinci dalam surat keterangan yang diberikan kepada pihak yang tidak berwenang.
- Larangan untuk menjalankan pekerjaan tertentu terkadang memang diperlukan. Seseorang yang sedang mengalami gangguan mental akut tidak seharusnya menerbangkan pesawat atau mengemudikan bus antarkota. Dokter yang merawatnya dapat menyarankan jenis pekerjaan lain.
- Setelah pulih atau ketika kondisinya stabil, sebagian pembatasan dapat dicabut dan status diagnosis dapat ditinjau kembali.
Kesehatan mental masih dikelilingi berbagai mitos, tetapi keinginan untuk memahami diri sendiri adalah hal yang wajar. Cobalah tes populer “Apakah Anda Memiliki Kepribadian Ganda?”.