Mencintai Sekaligus Membenci Pasangan, Apakah Wajar?

Ikuti tes
Mencintai Sekaligus Membenci Pasangan, Apakah Wajar?
15 September 2026

Pernikahan nyata jauh dari kisah dongeng masa kecil, setidaknya karena kehidupan terus berlanjut setelah pernikahan. Dalam rumah tangga, pasangan harus menghadapi kebiasaan satu sama lain yang menjengkelkan. Hal ini sering memicu konflik. Kelanjutan hubungan mereka bergantung pada cara suami istri mengatasi konflik tersebut.

Sebagian pasangan berusaha mengambil pelajaran dari konflik dan bersedia berubah demi memperbaiki hubungan. Pasangan lain mencoba mendominasi pasangannya sehingga mereka justru saling menyakiti.

Perasaan Ambivalen terhadap Pasangan Itu Wajar

Menurut psikolog, memiliki perasaan yang bertentangan terhadap pasangan adalah hal yang wajar, seperti “Saya mencintainya, tetapi…”. Terkadang, perasaan ambivalen tampak jelas dan seseorang dapat mengenali penyebabnya. Namun, ada juga orang yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki perasaan ambivalen terhadap pasangannya. Dalam kedua situasi tersebut, pasangan dapat berusaha memperbaiki keadaan atau memilih mengakhiri hubungan.

Perasaan Ambivalen Dapat Mendorong Perubahan

Para psikolog melakukan sebuah penelitian dengan mengumpulkan pasangan yang baru menikah dan mengukur ambivalensi mereka terhadap pasangan. Setelah itu, mereka diminta menilai tingkat kepuasan terhadap pernikahan. Orang yang lebih cenderung memiliki perasaan ambivalen ternyata sama puasnya dengan pernikahan mereka seperti peserta lainnya.

Selanjutnya, para peserta diminta mengidentifikasi masalah dalam rumah tangga, seperti seks, karier, komunikasi, kesehatan, dan sebagainya. Pasangan yang baru menikah itu juga menilai sejauh mana mereka bersedia mengatasi setiap masalah keluarga.

Setelah empat bulan, hasilnya menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki perasaan ambivalen lebih tertarik untuk melakukan perubahan. Selama empat bulan tersebut, mereka merasakan lebih banyak emosi positif daripada pasangan lain. Upaya pasangan dengan perasaan ambivalen pun membuahkan hasil dan semakin memperkuat pernikahan mereka.

Menerima Perasaan yang Bercampur

Ketika perasaan dan keyakinan seseorang saling bertentangan, ia akan mengalami ketegangan batin. Dalam psikologi, kondisi ini disebut disonansi kognitif. Jika ada sesuatu dalam pernikahan yang membuat Anda tidak nyaman, mulailah dengan memahami diri sendiri. Cari tahu mengapa hal itu mengganggu Anda, kesalahan apa yang sebenarnya dilakukan pasangan, apakah keinginan Anda memang beralasan, dan sebagainya.

Dengan demikian, Anda dapat mengubah cara pandang terhadap perilaku, tindakan, atau perkataan pasangan. Jika merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, Anda dapat membicarakannya dengan pasangan dan mencari solusi bersama secara tenang.

Disonansi kognitif adalah proses wajar yang dialami semua pasangan saat mulai menyesuaikan diri dan hidup bersama. Jadikan perasaan ambivalen sebagai dorongan untuk berubah, bukan sebagai sesuatu yang buruk.

Hal terpenting adalah menyadari bahwa pasangan Anda merupakan manusia nyata dengan keyakinan, kebiasaan, dan latar belakang pengasuhannya sendiri. Karena itu, ia tidak selalu dapat memenuhi harapan Anda.

Untuk memahami seberapa tulus perasaan Anda terhadap pasangan, cobalah tes “Apakah Perasaan Anda terhadapnya Benar-Benar Tulus?”.

Ikuti tes
logo