Mekanisme pertahanan psikologis
Mekanisme pertahanan psikologis (defense mechanisms) adalah strategi dan cara yang digunakan oleh psikis seseorang untuk meredakan atau menyembunyikan pengalaman yang menimbulkan kecemasan dan ketidaknyamanan akibat konflik internal atau eksternal. Mekanisme pertahanan dapat mencakup berbagai jenis pengubahan dan pengolahan informasi agar informasi tersebut lebih dapat diterima dan tidak terlalu mengancam keseimbangan psikologis seseorang.
Mekanisme pertahanan psikologis utama:
-
Represi: Mekanisme ini mencakup pemisahan pikiran, perasaan, atau ingatan yang tidak dapat diterima dari perhatian sadar, baik secara sadar maupun tidak sadar. Seseorang dapat berusaha untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
-
Proyeksi: Ketika menggunakan mekanisme ini, seseorang mengatribusikan sifat atau keinginan negatifnya sendiri kepada orang lain agar tidak perlu menyadari keberadaan hal tersebut dalam dirinya. Misalnya, seseorang yang cenderung agresif dapat menuduh orang lain bersikap agresif.
-
Rasionalisasi: Mekanisme ini mencakup pemberian penjelasan yang tampak logis atas tindakan atau pengalaman seseorang untuk menyembunyikan alasan sebenarnya, yang sering kali lebih kompleks dan bersifat emosional.
-
Regresi: Seseorang menggunakan mekanisme ini ketika menghadapi stres atau kecemasan dengan kembali ke cara berpikir atau berperilaku yang lebih primitif, serupa dengan cara yang lazim pada anak-anak.
-
Intelektualisasi: Dalam hal ini, seseorang memisahkan emosinya dari pemikiran sadar dengan berfokus pada aspek intelektual suatu situasi. Hal ini memungkinkan orang tersebut menghindari pengalaman emosi yang kuat.
-
Sublimasi: Mekanisme ini mencakup pengubahan keinginan negatif atau yang tidak dapat diterima menjadi bentuk aktivitas yang dapat diterima secara sosial. Misalnya, seseorang yang merasakan agresi dapat menjadi atlet.
-
Isolasi: Ketika menggunakan mekanisme ini, seseorang memisahkan emosi dari peristiwa atau pikiran yang berkaitan dengannya untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkannya.
Seseorang dapat menggunakan mekanisme pertahanan ini secara tidak sadar sebagai cara untuk menghadapi berbagai jenis stres dan konflik.